DKPPKB Bangka Selatan Gencarkan Penggerakan Cegah Stunting, Perkuat Sinergi Lintas Sektor Menuju Generasi Sehat

DKPPKB Bangka Selatan

TOBOALI, Babelsatu.com – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui kegiatan Penggerakan Cegah Stunting yang diselenggarakan di Halaman Kantor Kelurahan Teladan, Kecamatan Toboali, Selasa (7/7/2026).

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan, dr. Agus Pranawa, yang juga menjadi narasumber utama. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan bertujuan meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat melalui perbaikan pola konsumsi makanan, peningkatan perilaku sadar gizi, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi, serta pelayanan kesehatan yang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bacaan Lainnya

Dr. Agus Pranawa juga memaparkan bahwa berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, prevalensi stunting di Kabupaten Bangka Selatan tercatat sebesar 20,7%. Sementara itu, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, angka prevalensi stunting meningkat menjadi 24,6%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya percepatan penurunan stunting masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian dan kerja sama seluruh pihak. Selain itu, permasalahan balita pendek atau stunting masih tergolong tinggi, meskipun angka wasting (balita kurus) mengalami penurunan dari kisaran 10–14% pada Riskesdas 2013 menjadi 9,87% pada Riskesdas 2018.

Dalam sambutannya, dr. Agus Pranawa menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, melainkan masalah pertumbuhan dan perkembangan yang berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dari usianya, tetapi merupakan masalah pertumbuhan dan perkembangan yang dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan,” tegasnya.

Menurutnya, anak yang mengalami stunting berisiko mengalami hambatan perkembangan kognitif, gangguan kesehatan, serta penurunan produktivitas ketika dewasa. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus menjadi gerakan bersama yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi anak.

Pada kesempatan tersebut, dr. Agus Pranawa mengajak seluruh perangkat daerah terkait dan masyarakat untuk memperkuat komitmen dalam mencegah stunting melalui berbagai langkah nyata.

Upaya tersebut di antaranya memastikan setiap ibu hamil memperoleh pelayanan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan mengonsumsi makanan bergizi, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan serta melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun dengan didampingi makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi, melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita secara berkala di Posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) termasuk penggunaan air bersih dan sanitasi yang layak, serta mendukung edukasi gizi dan pola asuh yang baik di lingkungan keluarga.

Sebagai bentuk apresiasi, dr. Agus Pranawa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tenaga kesehatan, kader Posyandu, Tim Penggerak PKK, pemerintah desa dan kelurahan, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras mendampingi keluarga dan masyarakat dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bangka Selatan.

Mengakhiri sambutannya, dr. Agus Pranawa berharap kegiatan Penggerakan Cegah Stunting ini dapat menjadi momentum untuk semakin memperkuat komitmen dan kolaborasi lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan stunting. Melalui sinergi yang berkelanjutan, diharapkan pemenuhan hak gizi anak sejak dini dapat terus dioptimalkan sehingga target penurunan stunting dapat tercapai demi mewujudkan generasi Bangka Selatan yang sehat, tangguh, unggul, dan berdaya saing.

Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 170 peserta yang terdiri dari unsur perangkat daerah dan instansi vertikal, tenaga kesehatan meliputi jajaran DKPPKB, Laboratorium Kesehatan Daerah, RSUD Junjung Besaoh, RSUD Kriopanting, kepala puskesmas se-Kabupaten Bangka Selatan, pengelola gizi, bidan koordinator, serta kader Posyandu.

Turut hadir pula Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bangka Selatan, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Bangka Selatan, perwakilan organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan, serta unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan pemerintah kelurahan se-Kabupaten Bangka Selatan. (adv/nov)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *