RIAS, Babelsatu .com – Profesi petani belakangan ini tengah naik daun, lantaran harga jual hasil petani mulai ada kenaikan dan profesi sebagai petani dianggap menjanjikan. Bahkan, beberapa dari para penggarap lahan tersebut sudah mampu memenuhi keinginan mereka walau hanya dari hasil budi daya cabai yang dirintis sedari awal.
Senyum sumringah dan bahagia dirasakan wawi (45), seorang petani cabai dari dusun SPA, RT 04 / RW 02, Kelurahan Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.
Menurut wawi, bertani cabai seperti merawat bayi, Harus tekun, dan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ketika panen, para pedagang berdatangan ke rumah wawi untuk membeli hasil panen cabainya.
Memiliki kebun seluas 100×50 meter persegi dengan dibantu 5 pekerja, kebun wawi mampu menghasilkan 80 hingga 90 kg cabai rawit dalam masa panen. Wawi merasa senang kali ini hasil kebunnya mengalami kenaikan harga saat di beli para pedagang.
Wawi mengatakan, saat ini cabai hasil kebunnya di jual dengan harga Rp 120.000 per kilogram. Dengan hasil panen dan harga jual saat ini ia mengakui mendapatkan keuntungan hingga 7 sampai 9 juta rupiah setiap kali panen.
“Harga cabai sekarang Alhamdulillah mahal Rp 120.000 per kilogram, saya bisa meraup pendapatan hingga Rp 7 sampai 9 juta setiap kali panen. jadi petani ya senang karena harga cabai mahal. Sekali panen hampir dapat satu kuintal cabai ” ujar wawi saat di kunjungi media okeyboz di kebun miliknya, Senin (11/12/2023).
Hal yang sama juga dirasakan petani cabai lainnya bapak tri (50) warga dusun SPA. Ia bisa memanen 50 kilogram cabai rawit setiap panen 4 hari sekali. Ia pun meraup pendapatan Rp 6 juta sekali panen.
“Alhamdulilah harga cabai mahal, semoga bisa bertahan lama dengan harga saat ini jadi para petani cabai senang sekali panen bisa dapat 50 kilogram cabai setiap 4hari sekali, apalagi saat harga cabai mahal seperti sekarang ini, maka keuntungan yang didapat juga banyak,” ujar Tri.
Tri sedikit menceritakan kisah pahit manisnya menjadi seorang petani cabai. Ia pernah merasakan kerugian yang sangat besar disaat harga cabai anjlok. Saat itu kata Tri melanjutkan ceritanya, hasil panennya hanya dihargai seharga Rp 18.000 per kilogram sehingga harus menelan kerugian yang sangat besar.
Dengan semangat pantang menyerah, Tri menuturkan kunci kesuksesan dirinya, yaitu tak pernah menyerah menghadapi pasang surut harga jual hasil pertanian.
“Kunci sukses seorang petani cabai adalah tidak menyerah,” tutur Tri. (nov)






