BANGKA SELATAN, Babelsatu.com – Pelaksana Lapangan sekaligus Pengawas Lapangan Pekerjaan dari Cv. Tunas Pataka, Hendri Yulizar akhirnya buka suara terkait pekerjaan Rehabilitas Jaringan Irigasi D.I Rias Di Kabupaten Bangka Selatan milik Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Bangka Belitung tahun Anggaran 2023.
Hendri Kepada media Babelsatu.com saat ditemui di lokasi pekerjaan proyeknya yang baru di Desa Rias Kabupaten Bangka Selatan yang berdekatan dengan Proyek Rehab Cv. Tunas Pataka ini, Sabtu (5/07/2025) mengakui kalau Pekerjaan Rehabilitas Jaringan Irigasi D.I Rias di Kabupaten Bangka Selatan yang diberitakan jebol tersebut milik Cv. Tunas Pataka yang dikerjakan oleh dirinya sebagai Pelaksana Lapangan sekaligus Pengawas Lapangan dari Cv. Tunas Pataka.
Namun kata Hendri, pekerjaan tersebut hanya pekerjaan plasteran saluran Primer saja mulai dari STA 300, sedangkan saluran sekundernya milik Pemprov Babel.
Pengakuan Hendri Yulizar ini ia katakan langsung dihadapan Ketua DPC Pemuda Demokrat Indonesia Bangka Selatan, Mawardi yang menjadi narasumber jebolnya proyek irigasi tersebut dan Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mentukul, Barudin serta salah satu Petani Rias, Jummadi yang cukup vokal mengkritisi ketidakberesan pekerjaan irigasi di Rias, Bangka Selatan.
“Pekerjaan itu Rehab Punya Tunas Pataka, sekedar plaster bukan bangun baru untuk saluran Primernya saja”, jelas Hendri.
Menanggapi keretakan yang terjadi sejak masih dalam tahap pengerjaan tahun 2023 lalu sehingga menyebabkan air merembes keluar dan akhirnya jebol, Hendri juga mengakui keretakan tersebut dengan alasan akibat cuaca panas sehingga jadi retak retak.
“Ya memang retak itu punya Tunas Pataka karena cuaca panas sehingga jadi retak retak”, ungkapnya.

Meski demikian, Hendri tetap menyangkal kalau jebolnya irigasi tersebut bukan karena retak, namun karena saluran lamanya tidak dibangun dengan baik atau pasang batu di dinding salurannya yang tidak baik .
“Benar punya kami rehab Tunas Pataka tahun 2023, tapi kalau kami plaster menyebabkan terjadinya jebol itu tidak mungkin, itu kontruksi bangunan lama yang perlu di tinjau ulang,” ungkapnya.
Dihadapan Ketua DPC Pemuda Demokrat Indonesia Bangka Selatan, Mawardi, Hendri juga menyinggung bahwa Proyek pekerjaan yang lama sebenarnya dilakukan oleh salah satu kontraktor yang saat ini sudah menjadi Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung yaitu, Rina Tarol.
Namun Rina Tarol Ketika dikonfirmasi menyangkal tudingan tersebut, karena Proyek Pekerjaan ini sudah sekitar 20 Tahun yang lalu.
Sebelumnya, Hendri yang diberitakan dengan nama Hendra namun orangnya tetap sama, tidak mengakui kalau Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Rias di Kabupaten Bangka Selatan tersebut milik Cv. Tunas Pataka, padahal pemberitaan mengenai dugaan ketidak beresan pekerjaan Rehabilitasi ini sudah di lakukan sejak proyek tersebut masih dalam tahap pekerjaan, bahkan Hendri saat itu mengakui sebagai pelaksana lapangan dan pernah berkali kali di konfirmasi dilapangan terkait pekerjaan yang sedang mereka laksanakan.

Berdasrkan dokumen data yang dimiliki oleh media ini, Proyek tersebut terpasang dengan Plank Pekerjaan dengan data.
Pekerjaan : Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Rias Di Kabupaten Bangka Selatan
No Kontrak : HK.02.01/01/KONST/Bws23.8.6/2023
Tanggal Kontrak : 22 Februari 2023
Provinsi : Kepulauan Bangka Belitung
Nilai Kontrak : 10.875.000.000
Sumber Dana : APBN 2023
Penyedia : CV. Tunas Pataka
Konsultas Supervisi : PT. Mitra Karya Sanjata, PT Estetika Panca Sanjaya, PT Cipta Wahana Consultant, KSO
Masa Pelaksanaan : 300 Hari
Sementara, Ketua DPC Pemuda Demokrat Indonesia Bangka Selatan, Mawardi dihadapan Hendri mengatakan, jebolnya saluran irigasi primer milik Cv. Tunas Pataka ini mengakibatkan kerusakan pada saluran sekunder yang berada disebelahnya, karena air yang keluar sangat deras sehingga mengakibatkan irigasi sekunder disebelahnya juga jadi jebol.
“Penyebabnya saluran irigasi yang di rehab oleh Cv. Tunas Pataka ini Jebol sehingga mengakibatkan saluran di sebelahnya rusak juga, akibatnya air mengalir ke sawah sawah warga”, jelasnya.
Mawardi juga menyebutkan kalau Cv. Tunas Pataka ini melempar tanggunga jawab dengan menyebutkan hanya melakukan pekerjaan plasteran saja, padahal kata Mawardi, pekerjaan Rehab tersebut seharusnya memperbaiki yang rusak menjadi bagus kembali bukan menyalahkan proyek yang pertama.
Selain itu lanjutnya, pada pekerjaan rehab itu juga ada pekerjaan pasang batu untuk memperbaiki pekerjaan sebelumnya yang rusak.
“Cv. Tunas Pataka merehab irigasi ini karena rusak, seharunya irigasi menjadi bagus Kembali, tetapi yang mereka rehab ini sejak awal pekerjaan sudah retak retak seribu, sehingga air merembes dan irigasi jadi jebol”, tegasnya.
Ia menambahkan, alasan Cv. Tunas Pataka keretakan plesteran terjadi akibat cuaca panas yang terjadi sejak awal pekerjaan rehab tidak bisa dibenarkan, karena alasan yang dikatakan oleh Cv. Tunas Pataka ini tidak teruji secara tehnis, selain itu Kementrian Pekerjaan Umum tentunya sudah merancang kekuatan bangunan tersebut sesuai kajian mereka.

Sedangkan Ketua Poktan Mentukul, Barudin, terkait Irigasi yang jebol ini mengatakan, Air kurang terbagi ke sawah sawah warga karena jebol, sehingga tidak bisa mengatur airnya harus kemana.
Dampak jebol tersebut lanjutnya, kalau musim hujan terjadi banjir dan bila musim panas airnya berkurang karena airnya tidak bisa di atur dan mengalir ke tempat lain.
Sepengetahuan Barudin ia mengetahui proyek pekerjaan irigasi ini di rehab Kembali pada tahun 2023 lalu oleh Perusahaan Cv. Tunas Pataka.
Pantauan media ini di lokasi bersama Anggota Komisi II DPRD Babel, Poktan Mentukul, Dinas Pertanian Bangka Selatan, LPM Desa Rias, sejumlah Petani, LSM dan sejumlah wartawan, Sabtu (5/07/2025) di lokasi bendungan mentukul, saluran Irigasi tersebut mengenluarkan air rembesan dari setiap titik titik retak pada bagian plasteran pekerjaan rehab ini, selain itu bagian irirgasi yang sudah jebol juga terlihat semakin membesar denag debit air yang cukup besar sehingga merusak saluran sekunder disampingnya dan menyebabka air masuk ke persawahan warga.
Komisi II DPRD Babel berjanji akan memanggil pihak terkait untuk mempertanyakanirigasi tersebut karena dinilai mengganggu saluran air ke persawahan warga.
Sementara, Kasatker Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Balai Wilayah Sungai Babel, Supriatna alias Yatna, sejak awal proyek ini di lakukan pekerjaan rehab pada tahun 2023 tersebut hingga saat ini tidak pernah mau menjawab konfirmasi wartawan baik melalui sambungan telpon ataupun pesan singkat wahat’app.
Hal serupa juga sama dengan Pihak Kejati Babel sebagai PPS, Kasi Penkum Basuki Raharjo juga tidak pernah menjawab konfirmasi dari media ini.
Sampai Berita ini diturunkan, pihak pihak terkait masih tetap dalam upaya konfirmasi
Berita Sebelumnya. Dengan judul :
Padahal Diawasi Tim PPS Kejati Babel, Proyek Irigasi D.I Rias di Bangka Selatan yang Pernah Diberitakan Retak Seribu Saat Pengerjaannya Kini Sudah Jebol
BANGKA SELATAN, Babelsatu.com – Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Bangka Belitung pernah melakukan proyek pekerjaan Rehabilitas Jaringan Irigasi D.I Rias di Kabupaten Bangka Selatan pada tahun 2023 lalu.
Kontrak pekerjaan yang dimulai pada 22 Februari 2023 ini dikerjakan oleh CV. Tunas Pataka sebagai penyedia jasa pekerjaan dan PT. Mitra Karya Sanjaya, PT. Estetika Panca Sanjaya serta PT. Cipta Wahana Consultant sebagai Konsultan Supervisi pekerjaan.
Sejak awal pekerjaan, media ini pernah memberitakan, proyek yang masih dalam tahap pekerjaan tersebut sudah mengalami keretakan pada setiap bagian plaster dinding talud yang di plaster. Parahnya, keretakan tersebut terjadi di dinding talud dengan interval sekitar 4 sampai 5 meter disepanjang Talud.
Saat itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tombok menilai proyek tersebut dikerjakan tidak sesuai spesifikasi dan volume. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata proyek yang dikerjakan oleh CV. Tunas Pataka ini diduga tidak melengkapi dukungan alat yang diminta dalam dokumen kontrak yang diperlukan sebagai peralatan kontruksi utama dan peralatan bangunan seperti, Excavator Standar berkapasitas daya minimal 156 HP Bucket min 1,19 m3 sebanyak 1 unit, Pedestrian Roller/Baby Roller dengan kapasitas 1-2 ton daya 15 HP-20 HP dan lebar drum min 0,9 m sebanyak unit, Excavator mini kapasitas daya min 42 HP dan lebar blade maks 2m sebanyak 1 unit serta Concreate Mixer/ Molen kapasitas minimal 0,3 m3 sebanyak 5 unit.
Pengerjaan plesteran yang seharusnya menggunakan alat Concreate Mixer/ Molen hanya dilakukan dengan adukan manual menggunakan tenaga manusia. Pengawas Lapangan dari CV. Tunas Pataka sebagai penyedia jasa saat itu, Hendra mengakui bila ada sebagian pekerjaan semen yang dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia.
Tudingan LSM ini ternyata terbukti, belum genap 2 tahun, Proyek tersebut sudah jebol pada bagian sisi Talud sehingga air mengalir deras masuk ke wilayah persawahan warga sekitar.
Pantauan media ini di lapangan bersama Ormas Pemuda Demokrat Indonesia Bangka Selatan, Senin (23/06/2025), sejumlah keretakan kecil yang terjadi sejak awal pekerjaan sudah mengeluarkan air rembesan yang cukup menggenangi sawah warga sekitar.
Tak hanya itu pada bagian lain sisi Talud tersebut sudah jebol dengan diamenter sekitar 70 cm sehingga air mengalir deras keluar dari talud menuju persawahan warga.
Ketua DPC Pemuda Demokrat Indonesia Bangka Selatan, Mawardi menanggapi jebolnya tanggul ini mengatakan, proyek tersebut memang sudah retak sejak awal pengerjaan karena pengadukan semen tidak menggunakan mesin hanya dilakukan secara manual.
Selain itu, pasir bangunan juga tidak standar karena diambil dari bekas tambang setempat yang pasirnya sudah dicuci sehingga hilang kualitas pasirnya karena saripati tanah sudah hanyut dicuci saat penambangan timah. Ditambah lagi susunan batu kemungkinan semen adukan tidak masuk kedalam sisi sisi batu menjadi kopong dan mengakibatkan keretakan pada Pondasi bagian bawah sehingga dan mengakibatkan pecah.
“Pihak pengerjaan proyek pernah mengatakan kalau keretakan itu karena cuaca, padahal proyek ini harusnya tidak pandang cuaca panas atau dingin, tidak mungkin pecah karena sudah di rancang sesuai tehnis”, jelas warga Kecamatan Toboali ini.
Dampak dari keretakan itu kata Mawardi, menyebabkan keretakan jadi besar dan jebolnya talud sehingga merugikan petani untuk meningkatkan pangan karena saluran air sebagai penunjangnya tidak beres. Padahal lanjutnya, proyek ini di pantau oleh Tim Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS) Kejati Bangka Belitung (Babel)
“Proyek ini tidak berkualitas dan merugikan negara, harusnyanya Kejati Babel sebagai PPS yang mengawal proyek ini, kualitasnya semakin bagus bukan semakin buruk, jadi kami meminta Kejati Babel sebagai pengawas jangan malu malu untuk menindak kasus ini karena tidak menutup kemungkinan retak yang lain akan membesar dan jebol juga”, ujarnya.
Ia menambahkan, Kelompok Tani Tirta Metukul, Baharudin dan Masiri juga memprotes ketidakberesan proyek ini sejak awal pengerjaan, sehingga menyebabkan kerugian pada petani.
Lantai irigasi menurut laporan Kelompok Tani tersebut hanya disusun dengan batu dengan jarak sekitar 30 cm dan tidak rapat atau jarang jarang menggunakan batu bekas proyek Lama untuk pembangunan rehap tersebut. (naf)






